2016: Menjadi pembimbing tugas akhir

Standard

Tahun 2016 adalah tahun yang menurut saya penuh kejutan, penuh pengalaman, dan penuh memori. Air mata dengan kondisi down bisa mengalir bersamaan dengat tawa lebar penuh optimis. Aneh memang, tapi kira-kira memang begitu kondisinya. Ntah itu tentang pekerjaan, tentang persahabatan, tentang keluarga, maupun tentang hati.

Kali ini saya ingin summarise tentang pengalaman saya menjadi pembimbing mahasiswa master disini. Summary tentang kehidupan persahabatan dan cinta akan saya tulis secara terpisah berikutnya. Oia, sebenarnya saya bukan menjadi pembimbing utama, melainkan saya membantu membimbing mahasiswa yang dibimbing oleh pembimbing saya. It sounds complicated? hehehe 😛

Yap, dikarenakan riset yang saya kerjakan ini cakupannya cukup luas, dan juga dikarenakan topik yang saya kerjakan masih belum dikaji secara luas atau bisa dibilang masih menjadi pioneer di bidang saya, maka pembimbing saya pun menawarkan saya beberapa mahasiswa master, baik dari program MEng maupun MSc untuk membantu riset saya. Awalnya tentu saja saya deg-degan, karena khawati saya tidak bisa membimbing para mahasiswa master tersebut nantinya. Tapi tentu saja keraguan itu hanya saya simpan di hati saja, saya pun dengan optimis menyetujui usulan pembimbing saya tersebut.

Maret 2016, dua orang mahasiswa MEng dari dua negara yang berbeda, China dan Yunani, secara official mengerjakan tugas akhir dengan topik yang ada kaitannya dengan riset saya. 2 orang laki-laki yang tidak hanya memiliki nationality yang berbeda, tapi juga memiliki dua karakter yang berbeda, bahkan hampir bertolak belakang. Kevin adalah nama mahasiswa yang berasal dari China, sementara Angelos berasal dari Yunani. Pertemuan kami pertama kali terjadi di ruang pembimbing saya yang sekaligus pertemuan pertama mereka mengerjakan tugas akhir dibawah bimbingan pembimbing saya. Tak menunggu untuk diskusi kedua, selesai pertemuan pertama, saya sudah bisa menilai bagaimana karakter Kevin dan Angelsos. Kevin adalah mahasiswa pemalu, pekerja keras, serius, tapi ragu-ragu, takut mengambil resiko. Sementara Angelos itu berkarakter selengehan, santai, tidak malu bertanya, over-optimist, dan temperament, serta agak pemalas, tapi cerdas.

Ternyata cukup mudah menilai mahasiswa itu seperti apa. Tinggal dilakukan diskusi, kemudian diadakan sesi tanya jawab, maka dengan mudah bisa ditebak apakah mahasiswa tersebut pintar, berwawasan luas, optimis, pekerja keras, dan punya rasa ingin tahu yang tinggi. Atau mahasiswa tersebut diberikan tugas mengerjakan ‘x’ misalnya, maka kita bisa menilai mereka dengan melihat bagaimana respon mereka ketika diberi tugas. Bagaimana hasil yang mereka berikan pada saat mereka setuju untuk mengerjakan tugas itu. Bagaimana selama proses pengerjaan itu, apakah aktif, banyak bertanya atau sebaliknya pasif, atau bisa jadi mahasiswa itu hanya mencari muka. **Ada loh, mencari muka itu walaupun berkonotasi negatif, entah bagaimana menurut saya juga merupakan salah satu karakter yang dimiliki oleh employee dimanapun berada, apapun kantor atau perusahaannya. hehe

3 bulan full bersama mereka, terhitung Maret hingga May 2016, tentu kenangan demi kenangan itu tergoreskan. Entah berapa kali saya beradu agumen dengan Angelos yang sangat keras kepala. Angelos yang orangnya careless atau kurang hati-hati membuat saya was-was membiarkan dia mengerjakan eksperimen saya. Gagal berarti gagal, tidak ada kesempatan kedua. Jika eksperimen saya gagal dikarenakan ketidakhati-hatian mahasiswa master ini, akan berakibat fatal pada PhD saya. Sementara tentu bagi mereka tidak begitu masalah. Toh nilai tugas akhir ini tidak mengambil andil yang cukup besar agar mereka bisa lulus program master ini. Jadi jika hasil yang diperoleh tidak sesuai yang diinginkan, maka mereka dengan mudah menuliskan apa yang mereka dapatkan. Tidak seperti saya yang harus berfikir keras memikirkan solusi untuk penelitian berikutnya.

Saya banyak belajar dari Angelos, salah satunya bagaimana untuk memberikan kepercayaan kepada orang lain. Yap, saya yang tidak percaya dengan apa yang dia kerjakan terhadap hasil yang dia peroleh, membuat Angelos ternyata juga tidak menyukai saya. Sementara itu, Kevin juga memberikan pelajaran unik kepada saya. Pelajaran tentang bagaimana menjadi orang yang jujur, jujur dengan hasil eksperimen yang ada, sekecil apapun masalah itu terjadi.

Hanya berselang dua minggu saja, ketika Kevin dan Angelos mengumpulkan laporan mereka sebagai penanda berakhirnya tugas akhir mereka, mahasiswa MSc pun datang melanjutkan tugas mereka. Xianyi yang berkewarnegaraan China dan Joshua yang berkewarganegaraan Nigeria, serta Chao yang juga dari China juga meninggalkan cerita tersendiri dalam kehidupan penelitian saya di tahun 2016.

London, 28 Januari 2017

2016: De Quervain’s Tendinosis

Standard

Berawal dari pertemuan di bulan Oktober 2015 dengan pembimbing yang meminta saya untuk bisa mempersiapkan draft terkait topik tugas akhir untuk mahasiswa S1 tingkat 4 atau disini disebut ‘MEng student’, maka disinilah pembimbing saya memberitahu saya bahwa tahun depan akan ada dua orang MEng student bekerja membantu penelitian saya.  Tentu saja ketika itu saya merasakan kesenangan serta keraguan dalam bersamaan. Ragu, apakah saya memang bisa membimbing mahasiswa MEng ini, ragu apakah mereka akan paham dengan apa yang saya bimbing, ragu apakah mereka dapat mengerjakan riset saya dengan sebaik-baiknya.. Dilain sisi, tentu saja saya juga senang, karena itu artinya kerjaan saya menjadi lebih ringan, bahkan saya bisa melirik pekerjaan lain selama 2 orang MEng ini mengerjakan riset saya. Senang karena saya akan merasakan pengalaman untuk membimbing mahasiswa disini, bahkan dua orang sekaligus. Ntahlah, kita lihat saja nanti, hatiku pun berbicara pelan.

Kemudian November dan Desember 2015, dua bulan saya melakukan experiment full di Lab untuk membuat ratusan sampel beton yang akan digunakan oleh MEng nanti. Dibantu oleh teknisi saya yang orangnya baik tapi super moody, 2 bulan target untuk membuat beton berjumlah 144 buah, alhamdulillah tercapai. Selesai tapi dilain sisi juga mendatangkan masalah. Yap, dua bulan secara terus menerus mengangkat hal yang berat, dsb, membuat jempol saya terkilir, dan kemudian saya pun didiagnosa oleh dokter terkena penyakit “De Quervain’s Tendinosis”. Tentu saja hal ini membuat saya panik karena khawatir jika jempol saya akan selalu bermasalah seperti ini yang menyebabkan saya tidak bisa beraktifitas normal lagi.

Informasi tentang penyakit ini pun saya kumpulkan. Saya juga datang ke dokter untuk memeriksa jempol saya ini. Pertama kali dokter pun membuat surat rujukan untuk saya agar melakukan X-Ray di rumah sakit pada jempol saya ini, barangkali ada hal yang serius terkait tulang saya. Ternyata alhamdulillah tidak ada, hanya ada masalah dengan tendon saya saja, ujar sang Dokter. Saya pun kemudian diminta untuk memakan obat rasa nyeri tiap kali saya merasakan nyeri di jempol saya, dan kemudian mengoles salap untuk menghilangkan rasa nyeri juga. 3 bulan, 4 bulan, saya beraktifitas dengan kondisi jempol saya tidak bisa digunakan secara normal. Saya mengalami kesulitan untuk mengetik, untuk menulis, pun untuk membuka gagang pintu. Tak ada perubahan, kemudian saya pun bertekad untuk pulang ke Indonesia, untuk ‘berurut’, karena saya yakin salah satu cara ampuh adalah datang ke tukang urut. Sebenarnya dalam tahap pengobatan di London ini, dokter saya sudah berencana untuk mendaftarkan saya untuk melakukan terapi pada jempol saya ini. Namun, proses pengobatan yang bertahap di UK ini, membuat saya baru mendapatkan jadwal terapi 4 bulan kedepannya, sementara menunggu waktu 4 bulan, saya hanya diminta untuk terus memakan obat anti nyeri (ibuprofen) jika nyeri itu terasa.

Hasil pulang ke Indonesia dengan melakukan pengobatan tradisional, yakni berurut, tidak menghilangkan rasa sakit ini 100%. Berkurang memang iya, tapi rasa nyeri itu masih terasa. Dikarenakan keterbatasan waktu saya di Indonesia, saya pun harus balik ke London dengan kondisi saya masih merasakan rasa nyeri di jempol saya. Sebenarnya ketika saya berurut, ibu tukang urut saya pun sempat memberi tahu saya bahwa kondisi jempol saya ini sudah di level medium yang bisa saja dengan cepat menjalar ke tendon saya lainnya. Tentu saja pernyataan ibu ini membuat saya cemas dan kemudian sedih. Khawatir hal terburuk akan saya alami.

Sesampainya di London, saya pun datang ke dokter lagi, dan kali ini dokter meminta saya untuk menggunakan ‘thumb splint’ setiap waktu yang bisa saya beli di apotik. Dikarenakan kegiatan saya di lab tidak begitu padat ketika itu, maka alhamdulillah perlahan rasa nyeri itu memang berkurang.

Akan tetapi, entah bagaimana ceritanya, jempol saya tiba-tiba terbentur benda keras di pagi hari, ketika saya hendak bersiap berangkat ke kampus. Saya pun kaget luar biasa dan air mata pun mengalir karena rasa sakit yang tiada tara. Perlahan saya mencoba melakukan gerakan pada jempol saya, akhirnya rasa perih itu berkurang sedikit. Saya pun kemudian memutuskan untuk datang ke dokter hari itu juga. Kebetulan pukul 8.30 – 10.00 adalah jadwal emergency yang dimana pasien akan dilayani dengan cepat jika memang membutuhkan pertolongan yang cepat. Jika tidak, untuk pengobatan biasa, kita baru dapat jadwal paling cepat satu minggu berikutnya.

Nama saya pun dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter. Kebetulan dokter yang saya temui saat itu bukan dokter yang selama ini saya temui sehingga ketika dokter bertanya tentang apa yang saya alami, saya pun harus menceritakannya dari asal mula saya merasakan sakit di jempo saya. Kurang lebih 7 bulan sudah rasa nyeri itu saya rasakan. Dokter pun dengan tanggap menawarkan ‘injection’ atau suntikan di jempol saya. Awalnya tentu saja saya ragu-ragu karena khawatir akan memberikan dampak kepada organ atau kesehatan saya yang lain. Tapi dengan ramah sang dokter pun menjelaskan bahwa tidak ada efek samping dari suntikan ini.

5 menit dokter mempersiapkan proses ini, akhirnya jempol saya pun disuntik 2 kali. Ntah apa yang terjadi dengan suntikan itu, bagaimana dokter memasukkan jarum itu ke tangan saya, saya tidak tahu sama sekali, karena disepanjang proses injeksi, saya hanya menutup mata saya rapat-rapat. hehee

3 menit, proses itu selesai. Dan alhasil, semua rasa nyeri, rasa sakit di jempol saya hilang seketika. Hilang 100%. Tak ada rasa nyeri berbekas sedikitpun, jempol saya sembuh total. Alhamdulillah..

Dengan perasaan bahagia bercampur haru, saya pun menceritakan hal ini ke orang tua saya, ke sahabat terdekat saya.

7 bulan menahan rasa nyeri, walaupun tidak terlalu mengganggu aktivitas, ternyata hanya dengan 3 menit saja lewat proses injeksi, rasa nyeri itu hilang. Yap, beginilah proses pengobatan di UK pada umumnya. Prosesnya bertahap dan dokter pada umumnya akan mengarahkan pasien untuk melakukan hal-hal yang kecil terlebih dahulu, seperti menkonsumsi obat penghilang rasa nyeri, sampai kemudian ketika terasa semakin memburuk, baru kemudian dokter akan melakukan tindakan medis seperti memberikan suntikan atau operasi. :))

 

Desember 2016

Standard
23 Desember 2016
Ntah bagaimana ceritanya bahwa 2016 ini akan berakhir seperti ini, berakhir dengan sesuatu diluar nalarku. Jujur saja tak pernah diri ini membayangkan akan bertemu akhir seperti ini. Ku kira akan berakhir indah atau setidaknya berakhir baik. Oh, ternyata aku keliru.
Ntah berapa kali mereka, teman-temanku, mengingatkanku agar aku bangun dari mimpi itu. Mimpi yang seharusnya tak seperti itu. Mimpi yang seharusnya berjalan indah dan bahagia. Tapi diri ini terlalu keras kepala, terlalu buta dengan apa yang ada sehingga aku menolak apa yang mereka sampaikan. Aku tak mempedulikan mereka, bagiku apa yang ada dalam pikiranku itu benar, tak ada yang keliru.
Ini tentang sebuah mimpi. Mimpi yang sudah ku ukir sejak pertengahan tahun ini bahkan ukiran itu pernah pudar dan kuhapus sengaja. Ntah bagaimana mimpi itu datang lagi dan aku kembali pada ukiran itu, ukiran yang masih terlihat sama-samar, sehingga kuperjalas kembali dengan perlahan.
Ini tentang cerita masa lalu yang pernah hadir di hidupku. Ingin ku hapus semua memori, tapi tak ada gunanya karena semuanya pernah ada dan diri ini yang menjadikan mimpi itu nyata, mimpi itu ada wujudnya.
Oh,
Andai saja aku mengikuti kata hati sejak dulu, maka tak kan ada kesedihan dan kekecewaan seperti ini.
Andai saja aku percaya apa kata teman-temanku sejak dulu, maka ku tak kan mempedulikan peristiwa itu.
Andai saja mimpi itu tak pernah ada, maka tak kan ada ukiran yang pernah tergores.
Lalu,
Bagiku tak ada penyesalan.
Bagiku masa lalu adalah pembelajaran.
Bagiku rezeki itu tak pernah tertukar dan akan datang di waktu yang tepat.
Dan kini,
Bersiaplah wahai diri akan ukiran baru yang akan digoreskan.
Bersiaplah wahai diri menyambut kesenangan dan kesedihan baru yang akan datang.
Bersiaplah wahai diri..
Jangan menyerah,
Jangan bersedih,
Tetap berfikir positif padaNya.
Berusaha.
Berdoa.
Ikhlas.
Sabar.
dan Bersyukur.
Hari itu akan tiba, percayalah!
-London, 29 Desember 2016-

Studi dan Kehidupan di Kota PARIS VS LONDON

Standard

Berhubung menuju pergantian tahun dan berhubung jumlah mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan studi di luar negeri dengan beberapa pilihan beasiswa juga semakin meningkat, maka saya pun ingin menuliskan secara ringkas terkait perbedaan studi dan kehidupan di Paris dan di London yang barangkali bisa menjadi sedikit pertimbangan bagi teman-teman yang ingin melanjutkan studi di luar negeri, khususnya di negara Inggris ataupun di Prancis.

Yup, kebetulan sebelum lanjut studi di London ini, saya memiliki kesempatan untuk menjalani dan menyelesaikan studi S2/Master di Paris selama satu tahun (2012-2013), yang sama-sama merupakan kota besar, sama-sama ibukota negara, sama-sama menjadi kota tujuan turis, dan sama-sama memiliki banyak perguruan tinggi top dunia. Paris yang terkenal dengan Menara Eiffel dan Sungai Seine-nya, sementara London terkenal dengan Bigben dan Sungai Thames. Paris yang memiliki Champs-Elysees sebagai area perbelanjaan dengan deretan toko mewah dan terkenal, London memiliki Oxford dan Regent Street. Parisienne (sebutan untuk penduduk di Paris) menamai jenis keretanya sebagai Metro dan RER (Reseau Express Regional), sementara Londoners menyebutnya Tube/Underground dan National Rail.

Mungkin itu sekilas perbedaan antara kota Paris dan London.

Lantas, bagaimana perbedaan dalam hal pendidikan antara di Paris dan di London? 

Menurut hemat saya, perbedaan yang paling signifikan yang dirasakan oleh mahasiswa internasional adalah terkait uang kuliah atau ‘tuition fee’. Bisa dikatakan bahwa hampir semua perguruan tinggi negeri di Prancis tidak memberlakukan atau mengenal yang namanya biaya kuliah per semester atau per tahun, alias gratis. Memang ada biaya yang harus dikeluarkan, tapi mereka menyebutnya sebagai biaya pendaftaran atau biaya masuk saja, yang jumlahnya sangat kecil sekali, bahkan lebih kecil dari uang kuliah di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, yaitu kurang dari €300 (pada tahun 2012). Sementara di London, hampir di semua perguruan tinggi di Inggris, biaya uang kuliah tiap tahunnya yang harus dibayarkan oleh mahasiswa non-EU mencapai rata-rata lebih dari £20.000, hampir 100 kali lipat dari biaya sekolah di Prancis.

Akan tetapi, ketika berbicara tentang penelitian, khususnya dana penelitian, ada hal yang cukup berbeda secara signifikan antara di Prancis dan di Inggris. Di Prancis, ketika mahasiswa melakukan penelitian atau mengerjakan disertasi atau tugas akhir dengan melakukan penelitian di labotorium, maka setiap mahasiswa berhak mendapatkan gaji dari lab atau kampus dimana mereka melakukan penelitian tersebut, yang jumlahnya lebih kurang €450 setiap bulannya (pengalaman saya pada tahun 2013). Sudah tidak bayar uang kuliah, kemudian mendapatkan gaji di 5-6 bulan terakhir periode perkuliahan untuk melakukan penelitian. Apalagi jika mendapatkan kesempatan melakukan penelitian di lab perusahaan ternama, maka akan mendapatkan gaji diatas €1000 (berdasarkan pengalaman saya tahun 2013). Sementara disini, setahu saya bahwa perguruan tinggi di Inggris tidak mengenal adanya gaji/bayaran untuk mahasiswa S1 atau S2 yang melakukan tugas akhir atau melakukan penelitian di laboratorium.

Kemudian terkait biaya makan di kantin kampus yang ada kaitannya dengan kehidupan di kampus, ketika saya di Paris dulu, untuk sekali makan siang dengan lengkap makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup (sesuai dengan tipikal dan kebiasaan makan orang Prancis) dikenai biaya sebesar €3.20. Harga ini berlaku di hampir semua perguruan tinggi negeri di Prancis. Terlebih lagi di kampus saya, mereka juga memberlakukan subsidi silang antara mahasiswa dan staff, dimana untuk mahasiswa, biaya makan yang harus dikeluarkan mendapatkan potongan 30% lagi dari harga tersebut, atau lebih kurang €2.50 saja. Sementara di London, khususnya di kampus saya ini, saya harus bayar sebesar £4.12 dan hanya mendapatkan makanan utama saja, sementara jika ditambah makanan pembuka dan penutup, bisa mencapai £6.0, yang mana artinya kurang lebih dua kali lipat dari harga di Prancis. Bagaimanapun, jika rajin memasak, maka akan sangat menghemat biaya untuk pangan ini yang dimana menurut saya, harga bahan makanan di Paris maupun di London kurang lebih sama.

Selanjutnya terkait jam buka perpustakaan, di kampus saya di Paris dulu, perpustakaan tidak buka 24 jam seperti kampus disini. Seingat saya, jam beroperasinya perpustakaan hanya pukul 08.00 – 23.00, jadi saya pun tak punya pengalaman tidur di perpustakaan seperti kebanyakan mahasiswa yang studi di Inggris ini. Untuk periode peminjaman buku disini, selama tidak ada yang membutuhkan buku yang kita pinjam, maka akan diperpanjang otomatis bahkan selama studi disini (yang berarti dalam kasus saya bisa meminjam buku selama 4 tahun). Sementara di Paris, ada periode waktu yang harus dipenuhi dalam proses peminjaman buku.

Sistem penilaian atau IPK di Prancis adalah 1-20, dimana 10/20 adalah batas kelulusan. Sementara di Inggris memakai sistem penilaian 0-100%, dengan 40% adalah batas kelulusan. Jika gagal ujian, maka untuk beberapa mata kuliah ketika studi di Paris dulu, dosen pun memberikan kesempatan mahasiswanya untuk mengikuti ujian ulangan dimana nilai maksimum yang bisa didapatkan mahasiswa jika mengikuti remedi adalah nilai batas kelulusan.

Terkait beban kuliah dan tugas, tentu saja kurang lebih sama menurut saya. Sama-sama berat, sama-sama tidak mudah, dan sama-sama butuh perjuangan dan pengorbanan. 🙂

Dan yang terpenting yang perlu diketahui bahwa mayoritas jurusan di perguruan tinggi di Prancis akan menggunakan bahasa Prancis dalam proses belajar mengajar, yang menurut saya salah satu alasannya kenapa di Prancis tidak begitu banyak memiliki mahasiswa Internasional karena bahasa Prancis bukan bahasa internasional dan menurut saya tingkat kesulitan bahasanya cukup sulit. Sementara di Inggris, tentu saja mengikuti bahasa nasional negara ini yang juga merupakan bahasa internasional dimana semua proses belajar mengajar menggunakan bahasa Inggris. Dengan kata lain, ketika hendak mendaftar kampus di Prancis, setidaknya memiliki sertifikat DELF B2 atau minimal B1, sementara di Inggris harus memiliki nilai IELTS minimal 6.5-7.0 untuk engineering dan 7.0-7.5 untuk sosial.

Terakhir, terkait kelulusan dan wisuda. Di kampus saya di Paris dulu, bahkan mayoritas perguruan tinggi di Prancis, tidak mengadakan acara wisuda untuk lulusan master/S2. Sebaliknya, di Inggris ini, hampir semua perguruan tinggi mengadakan acara wisuda untuk mahasiswa yang lulus S1, S2, dan S3.

Kemudian, bagaimana perbedaan dalam hal biaya hidup dan pengalaman hidup antara di Paris dan di London?

Mungkin bagi yang belum pernah studi atau tinggal di Paris sebagai mahasiswa, maka akan berfikir biaya sewa akomodasi/appartemen/flat di Paris itu sangat mahal seperti halnya di London atau di kota besar lainnya. Tidak, sama sekali tidak. Kenyataannya biaya sewa akomodasi untuk mahasiswa itu terutama untuk mahasiswa internasional itu sangat murah sekali jika memilih tinggal di akomodasi kampus. Hampir semua kota di Prancis memiliki akomodasi khusus untuk mahasiswa, yang disebut Residence CROUS. Yup, tipe akomodasi di residence ini adalah studio yang itu artinya selain tempat tidur, meja belajar, dan lemari, juga terdapat dapur dan kamar mandi yang lengkap dengan toilet di dalam satu ruangan. Berbicara tentang studio, rata-rata biaya sewa untuk tipe akomodasi single seperti ini di kota London, terlebih lagi di dekat kampus saya akan mencapai £800-£1000 tiap bulannya tanpa ada diskon pelajar. Sementara di kota Paris, walaupun harga awalnya memang cukup tinggi (tapi tetap tidak semahal di London), kurang lebih €500-700 per bulan, kemudian mahasiswa internasional akan mendapat diskon yang disebut CAF ( Caisse d’Allocations familiales) sampai 70% (ketika itu saya mendapatkan diskon maksimum sebesar 70%). Dengan demikian, biaya sewa akomodasi ketika di Paris dulu hanya maksimal sekitar €250-350. Apalagi studi di kota di luar Paris, yang biaya awal sewa akomodasi hanya €200, dengan adanya potongan ini, tinggal membayar kurang dari €100 saja.

Kemudian jika dibandingkan dalam hal biaya transportasi bulanan, di Paris untuk zona 1-2 (berlaku untuk semua jenis transportasi), dengan status mahasiswa, maka hanya dikenai biaya sebesar €30-35. Bandingkan hidup di London, dengan sudah mendapatkan diskon mahasiswa/pelajar, biaya tarif transportasi setiap bulan di kota ini masih sangat besar, yaitu £85-90, hampir tiga kali lipat dibandingkan di Paris. Bagaimanapun, mungkin ini yang menyebabkan kenapa stasiun dan kereta di London ini jauh-jauh lebih bersih, nyaman, serta bagus dibandingkan di kota Paris. Namun, menariknya, ketika saya di Paris dulu, walaupun biaya transportasi lebih murah, akan tetapi banyak sekali mereka yang melompat pintu keluar stasiun karena tidak memiliki tiket dan mungkin juga dikarenakan penjagaan di stasiun yang juga sangat longgar. Hal yang berbeda saya temukan di London dimana sangat jarang sekali saya menemukan atau melihat mereka yang menggunakan fasilitas transportasi umum yang tidak memiliki tiket serta penjagaan dan suasana di stasiun juga sangat aman dan ketat sekali dimana di setiap pintu masuk/keluar stasiun selalu ada petugas yang berada disana.

Terakhir, berbicara tentang hidup sebagai seorang muslim, hidup di Inggris, terutama seperti saya yang tinggal di London, terasa jauh sangat nyaman dan mudah dibandingkan hidup di Paris. Disini, hampir semua perguruan tinggi memiliki fasilitas tempat sholat bagi umat muslim, dan di kota London sendiri juga banyak terdapat mesjid besar. Sementara di Paris, jujur saja saya menemukan kesulitan karena betapa sulitnya untuk menemukan tempat untuk beribadah. Beruntung saja waktu itu akomodasi saya berada tepat di seberang kampus sehingga tiap kali hendak melaksanakan sholat, saya bisa melakukannya di kamar. Akan tetapi ketika saya sedang melakukan penelitian di lab yang ketika itu lokasinya jauh dari akomodasi, maka saya pun disarankan untuk menggunakan fasilitas yang sudah tidak digunakan lagi untuk sholat, seperti laboratorium dsb, dan ketika hendak sholat, saya pun diberitahu untuk mengunci ruangan tersebut agar orang lain, khususnya mereka yang anti muslim tidak menemukan saya beribadah di tempat itu.

Selanjutnya untuk urusan makanan, tidak ada kesulitan bagi saya untuk menemukan tempat makan atau bahan makanan yang berlabel halal di London ini. Bahkan di kantin di kampus saya saat ini, hampir setiap hari mereka menyediakan daging halal. Sementara di Paris, kebalikannya kota London, tidak banyak tempat makan dan toko yang menjual daging halal, alhasil ketika saya harus makan di kantin kampus atau di restauran luar, maka tiap kali itu juga pilihanan menu makanan saya hanya menu vegetarian.

Lalu kesimpulannya? Semoga teman-teman yang membaca ini sudah memiliki kesimpulan masing-masing 

London, 10/12/2016.

http://www.kompasiana.com/fadhilahmuslim/studi-dan-hidup-di-kota-paris-vs-london_584c21695093730648b5f106

Tentang hari

Standard

-Puisi-

Tiupan angin di sore itu
Membangunkanku dari khayalan
Mengingatkanku akan hari esok

Tak mudah dan tak pun sulit bagiku

Ini cuma tentang hidup
Bukan tentang kematian 

Ku tahu tak ada yang bisa prediksi masa depan
Lalu tak ada gunanya dugaan dan khayalan
Maka berhenti tapi bukan berarti melupakan 

Berjuanglah untuk kawanku disana
Bersakit dahulu, kemudian bersenang
Kuburlah keraguan, kobarkan optimisme

Jika hari itu tiba
Ntah itu bersama kebahagian
Atau ditemani kesedihan
Ikhlaskan!
Itu semua rencana Tuhan

Jangan pernah diragukan! 

London, 30 Juli 2016