Apa itu postdoct?

Dari awal pindah ke Jerman, tepatnya di kota München atau Munich dalam bahasa Inggris, banyak sekali yang bertanya, ngapain ke Jerman, Dhil? Atau yang sudah tahu alasan saya ke Jerman, pertanyaan yang lain juga muncul: Bagaimana bisa mendapatkan posisi postdoc disana, Dhil? Postdoc itu ngapain aja, Dhil? Bahkan banyak mengira kalau selesai postdoc akan mendapatkan gelar. Hehe. Mari kita bahas.

Kenapa ada istilah postdoc?

Postdoc adalah singkatan dari kata postdoctoral atau kadang disebut juga postdoctoral researcher atau postdoctoral research associate, adalah mereka yang sudah mendapatkan gelar PhD atau sudah menyelesaikan S3 melanjutkan penelitian lagi (biasanya di perguruan tinggi) pada periode waktu tertentu dan masih dibawah bimbingan professor. Singkat kata, PhD dan Postdoc itu beda tipis. Bedanya kalau PhD itu merupakan jenjang pendidikan dan berujung gelar, sementara Postdoc bukan jenjang pendidikan dan tidak ada gelar untuk mereka yang menyelesaikan postdoc. Postdoc itu kerja aka penelitian, bukan sekolah. :))

Lantas kenapa mereka atau saya memilih untuk menjadi postdoc?

Well, di negara-negara maju, seperti Jerman, atau negara-negara di Eropa, Amerika, dan Australia, bahkan Singapura, postdoc merupakan bagian jenjang karir bagi mereka yang memilih untuk bekerja di akademia, atau menjadi dosen. Biasanya, kalau sering melihat lowangan pekerjaan menjadi dosen di perguruan tinggi kelas dunia, salah satu persyaratan utama selain sudah mendapatkan PhD, adalah juga pernah postdoc selama beberapa tahun pun beberapa kali. Yap, bahkan di Jerman, setelah pengalaman postdoc 3-4 tahun, baru kemudian bisa mendaftar menjadi dosen tetap. Pada saat postdoc ini, kita dituntut untuk menjadi lebih mandiri dalam melakukan penelitian dan merupakan modal ketika sudah menjadi dosen tetap yang salah satu tugasnya adalah membimbing penelitian S1, S2 maupun S3.

Lalu, kenapa saya juga postdoc? Apakah menjadi dosen di Indonesia juga harus pengalaman postdoc? Tentu tidak. Bahkan beberapa perguruan tinggi di Indonesia juga hanya mensyaratkan sudah S2 untuk bisa diangkat menjadi dosen tetap. Apakah gaji saya akan lebih tinggi jika sudah postdoc? Lagi-lagi, tidak. :))

Flashback sedikit, ketika masa-masa menunggu viva setelah submit PhD Thesis, saya iseng-iseng mencari posisi postdoc di perguruan tinggi top dunia (anaknya ranking minded, hehe). Bukannya syarat penerima LPDP harus lansung balik Dhil ke Indonesia setelah S3? Beruntungnya pada saat itu, LPDP masih mengizinkan untuk postdoc selama maksimal 1 tahun bagi penerima LPDP S3. Jadi itulah kenapa saya iseng-iseng daftar. Hasilnya?? Nanti saya cerita lagi di postingan yang lain. Tapi kemudian singkat cerita saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan mulai mengajar di almamater saya, yaitu UI, sebulan setelah saya selesai S3.

Kembali ke cerita kenapa akhirnya saya postdoc disini, maka jawabannya adalah postdoc saya di TUM, Jerman ini adalah postdoc yang tidak direncanakan. Jadi kira-kira bulan Agustus 2018, saya melihat ada pendaftaran untuk mengikuti kegiatan research opportunities weeks (ROW) di TUM selama 5 hari dan bagi yang terpilih maka biaya transportasi dan akomodasi akan dibiayai full oleh TUM. Maka saya lihatlah semua persyaratannya dan ternyata hanya 50 orang peneliti muda dari seluruh dunia yang akan diterima. Setelah mendaftar online, maka beberapa bulan kemudian, saya mendapatkan email bahwa saya adalah salah satu yang terpilih diundang ke TUM. Alhamdulillah.

1-5 April 2019 adalah kegiatan ROW yang saya ikuti. Pada saat pembukaan, disampaikan bahwa kami 50 orang ini terpilih dari sekitar 350 orang yang mendaftar dari seluruh belahan dunia. hehe. Alhamdulillah luck saya agak tinggi aja kali ya. Dari 50 orang yang diterima hanya ada 2 orang dari Asia Tenggara, yaitu saya dan satu lagi dari Malaysia. Selebihnya dari China, Austria, Belanda, Australia, India, Pakistan, USA, UK, dll.

[to be continued]

Hari pertama Postdoc di Jerman

München, 7 September 2020

 

Hari ini, adalah hari pertama saya datang ke office/lab dimana saya akan bekerja selama satu tahun kedepan.

How’s my feeling? Deg-degan!!

Singkat cerita, saya harusnya datang ke office pada tanggal 1 September 2020. Namun, dikarenakan ada peraturan dari pemerintahan Jerman yang mensyaratkan semua penumpang dari negara berisiko tinggi untuk karantina di rumah sampai hasil SWAB test yang dilakukan pada saat tiba di bandara negatif. Tidak beruntungnya, hasil swab saya keluar cukup lama, sehingga kemudian saya harus menunda datang ke office satu minggu kemudian yaitu pada hari ini.

Tepat pukul 9 pagi, saya sampai di depan pintu masuk Centre of Building Materials, TUM yang berlokasi di daerah Passing, Munich, 20 menit dengan kereta dari central Munich. Tentunya ini bukan kali pertama saya mengunjungi bangunan ini. Tahun lalu tepatnya pada Bulan April 2019 saya juga datang kesini dengan tujuan memenuhi undangan wawancara oleh Ketua Departemen Teknik Sipil yang sekaligus merupakan Direktur Centre ini dan secara kebetulan juga adalah supervisor saya disini. Ketika itu, 10 menit diskusi dengan beliau, pembicaraan terasa sangat awkward ntah kenapa, dalam hati saya, beliau barangkali tidak terlalu tertarik dengan saya. Namun kemudian, seiiring perjalanan waktu, diskusi terasa lebih hangat dan saya pun dibawa keliling lab oleh beliau dan diperkenalkan dengan beberapa orang disana.

Hari ini, orang-orang yang dulu saya pernah sapa, masih ada disana, dan surprisingly beberapa mereka masih mengingat saya yang pernah datang 1.5 tahun yang lalu.

“Hi, I am looking for Nicole. Do you know him?” pertanyaan pertama saya ketika kebingunan masuk ke kampus dan bertemu dengan seorang wanita yang datang bersamaan dengan saya. “Hi. I am Charlotte. I know you! Of course I know Nicole, I will bring you to Him”, jawabannya dengan wajah ceria dan semangat. “Oh, I know you as well. I remember that Prof. Christoph (which is my supervisor) has cc you in our email”. Balas saya. “Yes, I am the head of concrete technology lab”. “Nice to meet you!!”. “So, here is Nicole”, kita berdua pun sampai di ruangan Nicole.

Ketika masuk ruangan Nicole, oh, ternyata Nicole yang di cc oleh Thomas (Ketua Working Group dimana saya bekerja) dan Prof. Christoph adalah orang yang dulu Christoph pernah ngenalin ke saya. Ruangan ini, pikir saya, masih sama dengan 1.5 tahun lalu saya kemari. 5×5 dan ada dua orang duduk saling berhadapan serta satu meja kosong di tengah. Yup, ternyata ini sekaligus ruangan dimana saya akan bekerja selama 1 tahun ke depan. Pertama ada Nicole yang merupakan researcher sekaligus PhD student yang sudah berada di lab ini 9 tahun terakhir dan kedua adalah Mireke, juga resarcher di grup dan PhD student disini selama 2.5 tahun.

Nicole dan Mireke, mereka berdua sangat baik. Mereka menyambut saya dengan sangat ramah. Nicole bahkan mengajak saya keliling satu bangunan dan memperkenalkan saya ke semua orang yang ada di bangunan ini. Well, di lab ini ada sekitar 6 working group yang masing-masing working group terdiri dari ketua grup, ketua lab dan researcher serta teknisi. Nicole memperkenalkan saya ke semua mereka dan mereka pun menyambut baik kedatangan saya. “Hi all, this is Fadhilah. She is our new postdoc in our group”. So that’s how Nicole introduced me to the people here. So kind.

Tidak hanya sampai disana, Nicole kemudian mendaftarkan komputer saya dan bahkan mempersiapkan safety shoes untuk saya. Aah, mereka semua disini baik sekali. Alhamdulillaah.

Namun ada satu hal yang membuat saya surprised adalah bagaimana mereka makan siang disini. Tidak seperti di London dulu, jam makan siang adalah waktu para PhD dan dosen untuk berkumpul satu sama lainnya, have fun, have a chat with each others. Disini, mereka hanya beli makanan siap saji di supermarket dan kemudian menikmati makan siang masing-masing di meja sambil tetap bekerja. haha.

Jam kerja disini pukul 08.00 – 18.00, artinya kebanyakan mereka datang pukul 8 pagi dan pulang, well, jam 8 malam. Selama working hours, yang saya amati adalah mereka sangat fokus sekali, bahkan sangat jarang saya melihat mereka menyentuh hape. Sangat produktif!!

Well, that a story for today. Feeling grateful and happy. Alhamdulillah.

Tinggal di Jerman, How to start?

München, 5 September 2020.

Jerman! Adalah negara ketiga yang menjadi tempat tinggal saya untuk jangka panjang setelah sebelumnya Prancis (2012-2013) dan Inggris (2014-2018) yang dimana berturut-turut tempat tempat saya menempuh studi S2 dan S3.

Munich! Yap, saya sekarang tinggal di kota Munich yang merupakan ibukota Bavaria yang berada di bagian selatan Negara Jerman. Lain kali saya akan cerita tentang kota Munich.

Map of Germany

Singkat cerita, saya tiba di Munich pada tanggal 30 Agustus 2020. Dengan demikian saya sudah tinggal disini selama 5 hari. I think I like Munich, the people and the weather. 😀

Jadi apa saja yang harus dilakukan ketika sampai di Jerman? Dan plus berikut tips dari saya berdasarkan pengalaman saya selama 5 hari disini.

Finding an accommodation!

Obviously, that’s the most important thing you should have once arrived in Germany. :)) Singkat cerita, selama satu bulan disini, saya tinggal di akomodasi sementara yaitu di daerah Olympiapark atau tepatnya di Living Hotel. Kenapa disini? Sesungguhnya ini setelah melalui proses pencarian berhari-hari sebelum berangkat ke Jerman. Awalnya saya juga mempertimbangkan untuk mencari akomodasi di Airbnb, namun dikarenakan pandemi Covid seperti ini, maka saya prefer untuk tinggal di akomodasi yang private, dan jatuhlah pilihan tinggal di Living Hotel ini. hehe.

Berapa bayarnya? Cukup mahal untuk ukuran Munich, yaitu hampir 1000 eurous atau tepatnya 975 euros (900 + 75 addition fee). Saya menyewa apartemen ini selama satu bulan. Menurut hemat saya, tempat ini sangat worth it untuk disewa karena sangat nyaman dengan furnitur yang modern. Silakan liat di websitenya. hehe.

Barangkali bertanya, kenapa tidak lansung mencari long-term accommodation? Setelah pernah tinggal di London dan Paris sebelumnya, dan juga dikarenakan utk sewa long-term accommodation perlu membayar deposit yang cukup banyak, maka saya tidak menyarankan untuk menyewa akomodasi jangka panjang lansung dari Indonesia. Lebih baik satu bulan di akomodasi sementara seperti ini, selajutnya selama 1 bulan di awal, kita bisa mencari lebih leluasa bahkan visa viewing akomodasi yang kitta inginkan.

Benar saja, alhamdulillah, sekarang saya juga sudah dapat tempat tinggal jangka panjang per Oktober nanti.

Buying a mobile phone number!

Apa yang saya lakukan pertama kali keluar dari bandara? Mencari toko yang jualan nomer. LoL. Alhamdulillah, ada. Tapi tentunya saya yakin di semua bandara internasional ada. Lalu apa provider yang saya pilih untuk mobile phone di Jerman? Karena berhubung ketika saya beli, tokonya hanya menjual satu provider yaitu Lebara, maka saya punya tidak ada pilihan. Well, saya tahu lebara memang cukup bagus dan terkenal untuk provider di Eropa.

Opening a bank account!

Ada banyak pilihan Bank yang bisa dipilih di Jerman ini. Salah tiganya adalah Deutsche Bank, Post Bank dan Commerbank. Dan pilihan saya pun jatuh ke Duetsche Bank! hehe. Kenapa? Karena hanya bank ini saja yang melayani saya berbicara Bahasa Inggris. LoL. (*desclaimer: saya belum bisa bahasa Jerman sama sekali).

Ternyata membuka akun di Bank cukup mudah. Yang perlu dipersiapkan adalah: Paspor, surat keterangan tempat tinggal, dan surat keterangan bekerja atau bagi student surat dari kampus.

Pertama, ketika datang ke bank tersebut dan membuat appointment untuk bertemu CS mereka. Pada saat saya datang kembali, saya menyerahkan ketiga dokumen tersebut, dan kemudian CS lansung menginput data saya. Setengah jam kemudian, saya pun sudah mendapatkan akun bank saya. Well, kartu atm dan informasi detail terkait aku kita akan dikirimkan ke alamat kita paling lambat satu minggu setelah akun bank di buat. :))

Becoming a member of health insurance

Di Jerman, juga ada banyak pilihan company untuk kita mendaftar asuransi kesehatan. Dan setelah bertanya ke beberapa teman, mereka menyarankan untuk mendaftr di TK atau AOK. Dan pilihan saya pun jatuh ke TK. Kenapa TK? Karena lagi-lagi, mereka melayani pendatang yang tidak bisa Bahasa Jerman. LoL.

Ketika sampai di kantor TK, saya diminta untuk menyerahkan paspor dan alamat saya. Setelah mereka menginput data, 15 menit kemudian, saya diberitahu bahwa pendaftaran saya sudah selesai, dan kemudian semua informasi lebih detail lagi-lagi akan dikirimkan lewat email.

Demikian pengalaman saya. Semoga bermanfaat yaa.

Travelling ke Jerman pada saat Pandemi Covid19

München, 5 September 2020.

Hari ini , tepat satu minggu sudah saya meninggalkan Indonesia dan berangkat ke kota Munich (München dalam Bahasa Jerman) untuk bekerja sebagai Postdoctoral Researcher di TU Munich yang dengar-dengar merupakan perguruan tinggi terbaik untuk jurusan engineering di negara Jerman, selama satu tahun ke depan Insya Allah.

Berhubung perjalanan kali ini cukup berbeda dengan perjalanan sebelumnya, yakni ditengah Pandemi Covid19, maka saya akan coba berbagi cerita tentang persiapan ke Jerman hingga kemudian mendarat dengan selamat, sehat dan aman di kota Munich.

Singkat cerita, harusnya saya memulai pekerjaan saya di Jerman pada awal April 2020, akan tetapi, dikarenakan pada pertengahan Maret, angka kasus positif di Eropa pada umumnya dan Jerman pada khususnya sedang meningkat sangat signifikan per harinya dan tidak ingin mengambil resiko, maka akomodasi yang sudah dibooking, tiket pesawat yang sudah diissue, harus dibatalkan semua, bahkan visa Jerman yang sudah ada di tangan juga diikhlaskan.

3 bulan kemudian, yaitu pada awal Juli 2020, ketika saya melihat kondisi di Jerman semakin membaik dimana jumlah kasus positif sudah berkurang drastis, maka saya pun merencakan kembali untuk berangkat ke Jerman. Dan here I go!!

Mengurus Visa Bekerja Jerman. Yups, saya harus mengurus visa lagi dikarenakan visa saya yang keluar pada Maret 2020 sudah expired. (Catatan: Visa Long Term Jerman hanya berlaku 3 bulan saja, selanjutnya sesampai di Jerman kita mengurus permanent residence). Pada saat saya mengurus visa di akhir bulan Juli (appointment saya tanggal 28 Juli 2020), memang kedutaan Jerman sudah dibuka kembali sejak awal Juli untuk aplikasi visa jangka panjang (untuk keperluan sekolah, bekerja, dll). Proses pengajuan visa ini persis sama seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya disini: https://fadhilah23.wordpress.com/2020/05/17/mengurus-visa-kerja-jerman/  5 hari berikutnya saya dikirimkan email oleh kedutaan Jerman bahwa visa saya sudah selesai. Alhamdulillah..

Berikutnya: Tiket pesawat! Setelah visa saya keluar, berikutnya saya mencari informasi sebanyak mungkin tentang maskapai ke Jerman yang menerapkan protokol keseharan Covid19 terbaik. Sesungguhnya pencarian saya ini hanya mengerucut ke pesawat timur tengah yaitu: Qatar, Emirats, Etihad dan Turkish. Dimana saya memang biasanya pulang pergi ke Eropa dengan maskapai penerbangan ini.

Dan…. berdasarkan hasil pencarian saya, maka saya memutuskan untuk berangkat dengan Etihad. Kenapa Etihad? Dikarenakan maskapai ini mensyaratkan semua penumpang yang naik pesawat Etihad dari manapun WAJIB untuk memiliki surat keterangan SWAB NEGATIF yang berlaku 96 jam sebelum keberangkatan. Bagaimana dengan Qatar? Tidak ada persyaratan seperti ini. Well, menurut saya, dengan adanya persyaratan ini, maka membuat hidup saya less worried dan stressed saja selama perjalanan.

Berikutnya: Tes SWAB (PCR)!! 

Untuk Etihad, sebenarnya mereka punya daftar rekomendasi rumah sakit atau klinik bagi penumpang yang ingin melakukan tes SWAB. Hanya saja, karena lokasi saya yang dekat dengan kampus UI, maka saya memutuskan untuk melakukan tes SWAB di RSUI. Berapa biayanya??

Untuk Tes SWAB di RSUI ada dua jenis:

  1. Reguler. Hasil Keluar 2-3 hari dan membayar Rp. 1.650.000,-.
  2. Express. Hasil keluar dalam 24 jam dan membayar Rp. 2.100.000,-

Dikarenakan saya tidak mau deg-degannya kelamaan, makan saya pun mengambil paket ekspress untuk Tes Swab ini. Pada saat tes SWAB, saya lansung datang ke Poliklinik Melati, yang berada di dekat parkiran RSUI, dan melakukan test disana. Pada saat sampai di lokasi, saya pertama diarahkan ke meja registrasi untuk pendaftaran. Berikutnya diminta masuk ke ruangan untuk diminta keterangan (tujuan melakukan SWAB, apakan pernah ada gejala atau kontak dengan pasien, dsb) dan tandatangan surat pernyataan terkait SWAB ini yang dibantu oleh Nurse dan Dokter yang ada. Selanjutnya saya diminta untuk tes SWAB di ruangan 2×2 yang sudah disediakan. Dokter akan ambil sampel kita melalui kedua lubang hidung dan terakhir melalui tenggorokan. Bagaimana rasa Tes SWAB? Tidak sakit. Hanya saya merasa agak mual sekitar 1 menit tetapi kemudian normal kembali. Setelah selesai tes, saya diminta untuk bayar Tes SWAB seharga Rp.2.100.000 dan mendapatkan potongan 5% karena saya pegawai UI. hehe. Hasilnya keluar hari berikutnya. Alhamdulillah hasilnya negatif.

Finally: Flying to Jerman!! 

Check in di Bandara: Pada saat check in, benar saja, semua penumpang wajib menunjukkan surat keterangan negatif tes SWAB. Catatan: 96 jam ini dihitung sebelum keberangkatan, maka wajib mengikuti aturan ini. *Salah satu calon penumpang di depan saya, pada saat check ini terpaksa tidak jadi berangkat karena hasil tes yang dimiliki sudah melebih 96 jam.

Di pesawat menuju Abu Dhabi: Ekspresi pertama saya: SEPI. Alhamdulillaah. Barangkali hanya sekitar 20-30 orang saja yang ada di pesawat dengan total kursi mencapai 300an lebih. Semua pramugari dan pramugara menggunakan APD safety Covid19. Semua penumpang juga diwajibkan untuk menggunakan masker sepanjang waktu di pesawat.

Transit Abu Dhabi: Sesaat sebelum pesawat mendarat di Abu Dhabi, pramugari membagikan selembar kertas ke semua penumpang dan wajib diisi terkait Covid19. Apakah pernah bergejala, kontak dengan pasien, dsb., dan kemudian diserahkan kembali ke pramugari sebelum turun pesawat. Menariknya pada saat transit yang biasanya sangat ketat dimana tidak boleh bawa liquid, alat eletronik dikeluarkan, dsb., namun pada saat saya transit, sepertinya proses pemeriksaan barang tidak seketat sebelumnya. Sebentar saja, kemudian saya menuju ke gate dimana pesawat ke Munich siap diberangkatkan. Pada saat pemeriksaan dokumen, staff hanya meminta boarding dan paspor saja, sementara surat keterangan negatif tidak perlu ditunjukkan lagi.

Arriving in Munich: Sama sebelum mendarat di Abu Dhabi, sebelum mendarat di Munich, kita juga diminta untuk mengisi lembaran terkait Covid dan ada pernyataan bahwa apakah melakukan tes SWAB 48 jam sebelum mendarat? Jika iya, maka kita tidak perlu tes lagi. Dan jika tidak, dalam hal ini tentu saja surat negatif SWAB saya sudah expired, dan saya berasal dari salah satu list negara beresiko tinggi versi Jerman, maka sesampainya di bandara, saya wajib untuk test SWAB lagiii dan ini free. Hasil test tidak perlu ditunggu akan tetapi akan dikirimkan via email oleh mereka.

Dan peraturan di Jerman adalah bagi penumpang dari negara berisiko tinggi, maka diawajibkan karantina mandiri di rumah sampai hasil tes negatif SWAB diterima, jika tidak maka akan diberikan sangsi.

Beberapa hari kemudian, alhamdulillah saya pun menerima email yang menyatakan bahwa hasil tes SWAB saya negatif yang artinya saya sehat dan secara legal boleh beraktivitas keluar.

Voila!! Semoga kita semua dimanapun berada selalu sehat dan dilindungi Allah SWT. Aamminn…

Mengurus Visa Kerja Jerman

Desember 2019. Ketika itu saya sedang mengikuti program pelatihan yang diberikan oleh kampus selama 5 hari. Disana saya bertemu dengan salah seorang teman yang berencana akan ke Jerman untuk menyusul suaminya yang bekerja disana pada bulan May 2020. Saya yang berencana berangkat ke Jerman pada akhir Maret 2020 lebih cepat daripada teman saya ini agak kaget kenapa sang teman sudah membuat persiapan untuk mengurus visa padahal keberangkatannya masih 5 bulan lagi. Saya yang ketika itu mengira bahwa mengurus visa Jerman sama halnya dengan visa Prancis dan UK yang pernah saya lakukan sebelumnya, dimana 2 bulan sebelum keberangkatan cukup untuk mengurus visa dan appointment yang tersedia pasti banyak, ternyata tidak untuk visa Jerman.

Dikarenakan maksud saya ke Jerman tepatnya ke kota Munchen adalah untuk postdoc selama minimum 1 tahun atau dengan kata lain bekerja, maka saya pun harus apply visa kerja agar bisa berangkat ke Jerman. Ada beberapa hal yang berbeda antara mengurus visa Jerman dengan visa UK atau Prancis, dimana untuk visa Jerman, maka langkah pertama kali yang harus kita lakukan adalah Booking Appointment melalui link berikut: https://service2.diplo.de/rktermin/extern/choose_category.do?locationCode=jaka&realmId=807&categoryId=1480 .

Saya cukup kaget ketika saya membuka jadwal appointment dimana yang available adalah dimulai awal Maret 2020. Dengan kata lain periode Januari-Februari sudah overbooked. Beruntung saya tidak sengaja bertemu dengan teman saya yang juga akan ke Jerman sehingga saya lansung membuka website appointment tersebut dan booking jadwal yang ada. Jadi tips pertama, jika Anda sudah tahu kapan akan berangkat ke Jerman, maka buatlah appointment melalui link tesebut minimal 3 bulan sebelumnya untuk mengantisipasi kehabisan tanggal yang available.

Kemudian, setelah saya memilih tanggal dan jadwal yang masih tersedia, saya pun mengunduh satu persatu dokumen yang harus saya lengkapi dan bawa pada saat jadwal appointment di Kedutaan Jerman. Oia, untuk mengurus visa jangka panjang termasuk visa kerja, visa student, dsb, maka pengumpulan dokumen dan biometrik akan dilakukan di Keduataan Jerman yang berlokasi di Jalan M.H. Thamrin No. 1, RT. 1 / RW. 5, Menteng, RT.1/RW.5, Menteng, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10310.

Berikut persyaratan yang harus dibawa pada saat penyerahaan dokumen:

  1. Formulir aplikasi dapat Anda download di link berikut: https://videx-national.diplo.de/videx/visum-erfassung/#/videx-langfristiger-aufenthalt  Di print 2 rangkap.
  2. Foto 3 lembar ukuran 3.5 x 4.5
  3. Paspor (Fotocopy dan asli)
  4. Travel insurance. Dalam hal ini saya menggunakan AXA. (2 rangkap)
  5. Uang cash sebesar 60 euros atau sekitar Rp. 1.200.000,- untuk membayar pembuatan visa.
  6. Ijazah terakhir (Fotocopy dan asli).
  7. CV ( 2 rangkap)
  8. Kontrak kerja dari Jerman (asli dan original).

Sumber: https://jakarta.diplo.de/id-id/service/visa-einreise/-/1687488?openAccordionId=item-1992762-4-panel.

2 Maret 2020 pukul 12.45 adalah jadwal yang saya pilih untuk penyerahan dokumen. Saya tiba di kedutaan Jerman pada pukul 12.30. Saya pun diminta oleh penjaga untuk memperlihatkan bukti appointment yang sudah kita pilih dan paspor sebagai tanda pengenal. Setelah oke, kita diminta untuk mengscan barang bawaan kita dan wajib meninggalkan hp di loker yang sudah disediakan. Selanjutkan ketika saya sampai di ruangan untuk pengumpulan dokumen, pada saat saya masuk ternyata ruangannya kosong. Saya pun lansung menuju loket 1 sesuai arahan dari penjaga di bawah. Kemudian saya diminta untuk menyusun dokumen menjadi dua rangkap sesuai petunjuk yang ada dan menunggu panggilan. Cukup lama saya menunggu kurang lebih 30 menit sampai kemudian saya dipanggil. Saya pun menyerahkan dokumen yang ada kepada petugas loket. Kemudian petugas loket pun memeriksa semua dokumen saya dan mengajukan beberapa pertanyaan perihal kapan saya akan berangkat ke Jerman dan dalam rangka apa. Kemudian saya diminta duduk kembali sambil petugas loket memeriksa kembali kelengkapan berkas saya. Beberapa menit kemudian saya dipanggil kembali dan kemudian petugas loket mengeluarkan kwitansi dan saya diminta untuk bayar uang pembuatan visa. Untung ketika itu saya memang membawa cash lebih, karena memang petugas loket tidak menerima debit. Setelah saya bayar, petugas pun mengembalikan paspor saya dan meminta saya untuk mengecheck email jika ada pemberitahuan pengambilan paspor.

6 Maret 2020. Saya pun mendapatkan email dari kedutaan Jerman bahwa visa saya sudah selesai.

9 Maret 2020. Saya kembali datang ke kedutaan Jerman. Saat itu tidak beruntungnya, saya kelupaan membawa kuitansi yang diberikan pada saat penyerahan dokumen. Beruntungnya saya pernah mengambil foto halaman depan kuitansi tersebut. Akhirnya saya pun memperlihatkan foto tersebut ke penjaga pintu masuk agar saya diperbolehkan masuk. Alhamdulillah saya pun diperbolehkan masuk.

Ketika sampai di ruangan pengambilan paspor, saya menemui ada beberapa orang yang juga sudah mengantri. Saya pun mengambil nomor antrian. Kemudian beberapa menit kemudian nomer saya dipanggil dan saya diminta untuk menyerahkan paspor. 20 menit kemudian nama saya dipanggil kembali dan petugas loket pun menyerahkan paspor saya yang sudah dilengkapi dengan visa nasional Jerman. Alhamdulillah.

Berdasarkan pengalaman saya, maka hanya butuh 7 hari saja dari saat penyerahan dokumen sampai visa saya dinyatakan sudah selesai. Uniknya lagi, setelah penyerahan dokumen, paspor saya diminta untuk diambil kembali. Saya sempat bertanya kembali ke loket, apa benar paspor saya dibawa pulang, kenapa tidak ditinggal saja untuk visa. Ternyata pada saat pengambilan visa, kita diminta untuk membawa paspor kita, dan di hari pengambilan itulah, stiker visa kita ditempel di paspor.

Kesimpulan: 2 Maret penyerahan dokumen. 9 Maret visa saya sudah selesai. Alhamdulillah.