Tulisan Prof. Quraish Shihab

Standard

-15 Agustus 2017-

Pagi ini, seorang teman yang sama-sama juga sedang menempuh PhD di London seperti saya mengirimkan tulisan Prof. Quraish Shihab lewat WhatsApp dengan judul “Nasehat Bapaknya Najwa buat anaknya”. Dikarenakan tulisan beliau sangat bagus sekali, maka sebagai pengingat untuk diri saya sendiri pun semoga akan semakin banyak dibaca oleh orang banyak, maka saya share tulisan beliau disini. Semoga bermanfaat! ūüôā

“Keberuntungan” kadang memainkan perannya dalam kehidupan manusia, sekalipun kerap tidak masuk akal.¬†Karena itulah takdir mereka.¬†

Boleh jadi keterlambatanmu dari suatu perjalanan adalah keselamatanmu
Boleh jadi tertundanya pernikahanmu adalah suatu keberkahan
Boleh jadi dipecatnya engkau dari pekerjaan adalah suatu maslahat
Boleh jadi sampai sekarang engkau belum dikarunia anak itu adalah kebaikan dalam hidupmu.
Boleh jadi engkau membenci sesuatu tapi ternyata itu baik untukmu, karena Allah Maha Mengetahui Sedangkan engkau tidak mengetahui. 

Sebab itu, jangan engkau merasa gundah terhadap segala sesuatu yang terjadi padamu, karena semuanya sudah atas izin Allah. 

Jangan banyak mengeluh karena hanya akan menambah kegelisahan.
Perbanyaklah bersyukur, Alhamdulillah, itu yang akan mendatangkan kebahagiaan.
Terus ucap alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya. 

Selama kita masih bisa tidur tanpa obat tidur, kita masih bisa bangun tidur hanya dengan satu bunyi suara, kita terbangun tanpa melihat adanya alat-alat medis yang menempel di tubuh kita, itu pertanda bahwa kita hidup sejahtera. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, ucapkan sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya. 

Jangan selalu melihat ke belakang karena disana ada masa lalu yang menghantuimu.
Jangan selalu melihat ke depan karena terkadang ada masa depan yang membuatmu gelisah.
Namun lihatlah ke atas karena di sana ada Allah yang membuatmu bahagia. 

Tidak  harus banyak teman agar engkau menjadi populer, singa sang raja hutan lebih sering berjalan sendirian. Tapi kawanan domba selalu bergerombol.
Jari-jari juga demikian; kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, semuanya berjajar bersampingan kecuali jari jempol dia yang paling jauh diantara keempat itu.
Namun perhatikan engkau akan terkejut kalau semua jari-jari itu tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya jempol yang sendiri yang jauh dari mereka. 

Karena itu, sebenarnya yang diperhitungkan bukanlah jumlah teman yang ada di sekelilingmu akan tetapi banyaknya cinta dan manfaat yang ada di sekitarmu, sekalipun engkau jauh dari mereka. 

Menyibukkan diri dalam pekerjaan akan menyelamatkan dirimu dari tiga masalah; yaitu kebosanan, kehinaan, dan kemiskinan.
Aku tidak pernah mengetahui adanya rumus kesuksesan, tapi aku menyadari bahwa “rumus kegagalan adalah sikap asal semua orang”.¬†

Teman itu seperti anak tangga, boleh jadi ia membawamu ke atas atau ternyata sebaliknya membawamu ke bawah, maka hati-hatilah anak tangga mana yang sedang engkau lalui.

Hidup ini akan terus berlanjut baik itu engkau tertawa ataupun menangis, karena itu jangan jadikan hidupmu penuh kesedihan yang tidak bermanfaat sama sekali.
Berlapang dadalah, maafkanlah, dan serahkan urusan manusia kepada Tuhan, karena engkau, mereka, dan kita semua, semuanya akan berpulang kepadaNya. 

Jangan tinggalkan sholatmu sekali pun. Karena di sana, jutaan manusia yang berada di bawah tanah, sedang berharap sekiranya mereka diperbolehkan kembali hidup mereka akan bersujud kepada Allah SWT walau sekali sujud.
Jangan selalu bersandar pada cinta, karena itu jarang terjadi.
Jangan bersandar kepada manusia karena ia akan pergi.
Tapi bersandarlah kepada Allah SWT, Tuhan YME, karena Dialah yang menentukan segala nya.

Advertisements

Mengurus Visa Schengen Turis

Standard

Prancis, Swiss, dan Italia adalah 3 negara di Eropa daratan yang dimana saya pernah punya pengalaman mengajukan permohonan visa Schengen turis tersebut. 3 negara, 3 cerita ūüėÄ namun persyaratannya hampir sama satu dengan lainnya.

Well. Pertanyan pertama adalah, kenapa disebut Visa Schengen? Sederhananya adalah karena negara yang akan dikunjungi berada di kawasan Schengen. Yap, area Schengen meliputi 26 negara yang tersebar di benua Eropa: Austria, Belgium, the Czech Republic, Denmark, Estonia, Finland, France, Germany, Greece, Hungary, Iceland, Italy, Latvia, Liechtenstein, Lithuania, Luxembourg, Malta, the Netherlands, Norway, Poland, Portugal, Slovakia, Slovenia, Spain, Sweden and Switzerland.

Maka kemudian, selama kita memiliki visa Schengen turis yang dikeluarkan dari salah satu negara-negara tersebut, maka kita bisa masuk ke 26 negara tersebut selama visa kita masih berlaku. ¬†Dengan kata lain, satu visa, 26 negara. ūüôā

Lalu bagaimana persamaan dan perbedaan dari proses pengajuan visa ke 3 negara tersebut?

Kita mulai dari Swiss. Singkat cerita, 14 – 17 May 2017, saya akan memberikan presentasi pada konferensi yang sangat penting di bidang saya di kota Les Diablerets, Switzerland (Swiss). Berhubung acaranya berlansung 4 hari 3 malam, Minggu – Rabu, saya pun kemudian merencakan untuk menghabiskan 4 hari 4 malam saya berikutnya, Kamis – Minggu untuk jalan-jalan mengunjungi negara Italia (tetangganya Swiss), tepatnya ke kota Milan, Venice, dan Florence.

Kesalahannya adalah, awalnya saya mengira bahwa negara dimana kita mengajukan permohonan visa adalah negara yang pertama kali kita kunjungin. Namun faktanya adalah bahwa negara tujuan permohonan visa adalah negara dimana kita menetap lebih lama. Dalam kasus saya, maka jelas saya menghabiskan waktu saya lebih lama di Italia walaupun hanya selisih satu malam saja. Dan kemudian, jika jumlah harinya sama untuk kedua negara yang kita kunjungin, maka kita boleh memilih salah satu manapun dari negara-negara tersebut.

Lalu, apa yang terjadi?

Awal Maret 2017, saya pun kemudian mengumpulkan semua persyaratan dokumen untuk pengajuan permohonan visa ke Swiss sesuai dengan yang tertera di website berikut https://www.vfsglobal.ch/switzerland/uk/tourist.html . Adapun persyaratan untuk visa schengen turis ke Swiss sebagai berikut:
1) Formulir yang bisa diunduh dari link berikut: https://www.sem.admin.ch/content/sem/en/home/themen/einreise/visumantragsformular.html
2) 2 buah pasfoto dengan ukuran sama dengan ukuran foto di paspor kita.
3) Paspor dengan masa berlaku minimal 3 bulan sebelum keberangkatan.
4) Fotokopi paspor bagian halaman biodata termasuk halaman yang ada tanda tangan kita.
5) UK residence permit, atau dalam hal ini visa pelajar di Inggris dengan masa berlaku minimal 3 bulan sebelum keberangkatan.
6) Print out dari buku rekening Bank kita yang menampilkan data pemasukan dan pengeluaran selama 3 bulan terakhir. Hal ini bertujuan untuk memastikan pemberi visa bahwa kita punya dana yang cukup selama kunjungan ke negara di area schengen tersebut.
7) Copy dari bukti reservasi/pembelian tiket transportasi (tiket pesawat, tiket kereta,, dsb) pulang pergi dan reservasi hotel selama kunjungan kita. Untuk reservasi penginapan, maka menurut saya airbnb adalah pilihan yang tepat. Karena kebanyakan properti yang kita sewa bisa di refund bahkan sampai hari h-1 penginapan.
8) Travel insurance yang mencakup seluruh perjalanan kita ke Schengen area dengan minimal EUR 30,000. Dalam hal ini, saya menggunakan AXA insurance yang bisa dibeli di website berikut: http://www.axa.co.uk/insurance/personal/travel/ . *menurut teman-teman saya, travel insurance juga bisa dibeli di kantor pos dan harganya relatif lebih murah.
9) Surat keterangan dari kampus yang menyatakan bahwa status kita masih aktif.
10) Biaya pembuatan visa sebesar 82.39 GBP.

Semua persyaratan pun sudah saya lengkapi. Dengan demikian, saya pun dengan percaya diri membuat akun pendaftaran visa ini untuk mendapatkan nomor referensi SWLNxxxxxxxx yang akan digunakan untuk pendaftaran. Setelah registrasi, saya pun kemudian memilih jadwal appointment melalui link berikut https://www.vfsglobal.ch/switzerland/uk/schedule_an_appointment.html dengan sebelumnya terlebih dahulu membayar uang visa secara online. Kebetulan sekali, pada saat itu jadwal appointment untuk negara Swiss cukup kosong, sehingga saya pun kemudian bisa mendapatkan jadwal dengan cepat, yakni 3 hari setelah saya melakukan pembayaran pada tgl 21 Maret 2017.

24 Maret 2017, pukul 9.30am. Saya pun memasuki ruangan appointment di “Switzerland Visa Application Centre”,¬†66 Wilson Street¬†EC2A 2BT London). Hanya menunggu sekitar 10 menit saja, saya pun mendapatkan giliran untuk menyerahkan dokumen dan kepentingan biometrik. Ketika itu, petugas yang melayani saya adalah seorang laki-laki. Setelah saya menyerahkan dokumen saya, ybs pun dengan hati-hati memeriksa dokumen yang saya bawa satu persatu.
“Jadi dari kapan dan sampai kapan Anda tinggal di Swiss dan Italia?” Kemudian saya pun menjelaskan sambil petugas memeriksa dokumen bukti reservasi tiket dan penginapan saya. Ketika itu, petugas pun berkata “Anda harusnya mendaftar visa ke Italy, bukan ke Swiss, karena Anda lebih lama tinggal di Italia daripada di Swiss”. Dalam hati saya “Astaghfirullah, kenapa saya bisa salah begini”. Lalu saya pun menjawab “Saya kira kita mendaftar di negara dimana pertama kali kita mendarat”. Dan kemudian petugas pun menjawab “Iya, itu peraturan sudah lama sekali. Peraturan terbaru adalah sesuai dimana tempat yang kita menetap lebih lama”. “Baiklah”, kata saya. “Lalu bagaimana dengan biaya visa yang sudah saya bayarkan secara online? Saya kan mendapatkan penolakan seperti ini bukan karena dokumen saya yang tidak lengkap atau hal lainnya, tapi karena kekeliruan saya terhadap informasi dimana saya harusnya mendaftar visa”.¬†Sang petugas pun menjawab “Jangan khawatir, uang Anda akan kami balikin. Silakan tanda tangan disini. Tapi ini akan butuh kurang lebih 2 minggu sampai uangnya masuk ke rekening Anda”. “Terimakasih”.

Saya pun kemudian keluar ruangan dengan kecewa. Tetapi tentu saja saya harus tetap bersyukur karena Alhamdulillah uang visa saya dikembalikan ūüôā

Bersambung…

Mengurus Visa Turis Inggris dari Indonesia

Standard

Senin, 17 Juli 2017 adalah¬†tanggal dimana ayah dan ibu datang ke gedung Kuningan City Mall Lantai 2 di ¬†Jl. Prof. Dr. Satrio Kav. 18 Jakarta, tepatnya ke “VFS Jakarta Visa Application Centre”, untuk menyerahkan semua dokumen untuk kepentingan pengajuan “Visa Turis ke Inggris” dan sekaligus untuk kepentingan sidik jari dan pengambilan foto. Dan kemudian hanya selang 7 hari kerja, tepatnya tanggal 26 Juli 2017, ayah dan ibu pun mendapatkan email konfirmasi dari VFS bahwa visa sudah bisa diambil. Alhamdulillah.

Karena kebetulan kesibukan ayah dan ibu, pun keterbatasan ayah dan ibu dalam berbahasa Inggris, serta karena tujuan utama ayah dan ibu ke Inggris adalah untuk mengunjungi anaknya (a.k.a. saya :p) yang sudah tinggal di London selama 3 tahun, maka saya yang kemudian membantu untuk mengisi formulir visa untuk ayah dan ibu secara online beserta memberitahu ayah dan ibu terkait apa saja dokumen yang harus dipersiapkan untuk keperluan pengisian formulir ini.

Maka, berikut langkah-langkah untuk pengajuan visa turis ke Inggris:  

1. Membuat akun pendaftaran melalui website ini:¬†https://www.visa4uk.fco.gov.uk/account/register¬†. Setelah membuat akun, maka pelamar akan mendapatkan konfirmasi melalui email dan akun tersebut akan aktif hingga 1 tahun mendatang. Dalam hal ini pelamar akan mendapatkan nomor referensi yang dimulai dengan 3 huruf berikut “GWFxxxxxxxxx”
2. Login melalui website ini: https://www.visa4uk.fco.gov.uk/Account/login. dengan memasukkan email dan password yang kita gunakan pada saat membuat akun.
3. Tahap selanjutnya adalah mengisi formulir secara online. Pada saat pengisian formulir ini, maka kita bisa menyimpan sementara apapun isian yang kita lakukan sebelum menekan tombol ‘submit’.¬†Jadi mengisi formulir bisa dilakukan bertahap dan santai.
4. Formulir pengajuan visa ini terdiri dari 7 part yang dimana setiap part nya harus diisi lengkap dengan menggunakan bahasa Inggris. Adapun ketujuh part tersebut sebagai berikut:
1) Passport and travel information. Pada bagian ini, pelamar diminta untuk mengisi detail terkait informasi yang tertera di halaman depan paspor beserta tanggal tiba di Inggris dan alamat dimana pelamar akan tinggal selama kunjungan ke Inggris;
2) Personal details and travel history. Pada bagian ini pelamar akan diminta untuk mengisi informasi terkait alamat tinggal di Indonesia dan berapa lama sudah tinggal di alamat tersebut. Pelamar juga diminta untuk memberikan informasi detail terkait apakah sebelumnya pernah memiliki visa Inggris ataupun mengadakan perjalanan ke Inggris selama 10 tahun terakhir;
3) Family details. Pada bagian ini, pelamar diminta untuk memberikan informasi dengan detail terkait suami/istri, orang tua, serta anak, termasuk nama lengkap, tempat dan tanggal lahir masing-masing, serta alamat tempat tinggal;
4) Employment and income. Pada bagian ini pelamar akan ditanya mengenai status kepegawaian saat ini. Apakah bekerja di pemerintahan, polisi, militer, dsb, lengkap dengan informasi jumlah gaji yang diterima, alamat kantor, dan tanggal mulai bekerja. Selanjutnya pelamar akan diminta untuk mengisi perkiraan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan ke Inggris, termasuk untuk biaya transport, sewa tempat tinggal, dan biaya kehiduapan sehari-hari;
5) Family and friends in the UK. Berhubung ayah dan Ibu akan menginap di rumah saya selama kunjungan mereka ke London, maka formulir ini diisi dengan data diri saya termasuk nama lengkap, alamat di Inggris serta nomor telfon saya;
6) Medical treatment.¬†Bagian ini terdiri dari hanya satu pertanyaan aja jika jawabannya adalah ‘No’.¬†Have you ever received medical treatment in the UK?;
7) Additional information
. Jika pelamar ingin menjelaskan apapun informasi yang belum tersampaikan di bagian-bagian sebelumnya akan tetapi pelamar merasa informasi ini dapat mendukung aplikasi permohonan visa ini, maka bagian ketujuh ini adalah tempatnya. Dalam hal ini, saya menambahkan informasi di formulir ayah dan ibu, bahwa mereka akan pergi ke Inggris berdua untuk mengujungi anaknya (saya :p) yang sedang studi di Inggris.

5. Setelah visa selesai diisi secara online, kemudian pelamar bisa menekan tombol submit.
6. Setelah formulir disubmit, maka pelamar bisa memilih jadwal appointment untuk penyerahan berkas dan keperluan biometrik (sidik jari dan foto wajah) di lokasi VFS yang dipilih (Jakarta, Surabaya, atau Bali) sesuai dengan tanggal dan jadwal yang diinginkan selama jadwal tersebut belum terisi.
7. Tahap berikutnya adalah melakukan pembayaran visa secara online sebesar USD 119.00 dengan kartu kredit Visa atau Master Card atau dengan kartu debit.
8. Dengan dilakukan pembayaran maka berakhir pula pengisian formulir pengajuan visa secara online ini.

Selanjutnya pelamar akan dikirimkan email terkait list dokumen yang harus dibawa pada saat penyerahan dokumen. Adapun dokumen tersebut kemudian dengan dibantu oleh adik saya disusun berdasarkan urutan dan dimasukkan ke dalam sebuah map tertutup yang siap untuk diserahkan kepada petugas pada saat appointment nanti.
Adapun dokumen yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1) Bukti konfirmasi appointment;
2) Formulir visa yang sudah ditandatangani;
3) Paspor asli;
4) Dokumen pendukung, seperti: a) Fotokopi paspor lama (jika ada), b) Surat bekerja lengkap dengan cap dan tanda tangan dari tempat bekerja dalam bahasa Inggris, c) Surat izin dari kantor (terutama untuk yang PNS) dalam bahasa Inggris, d) Surat referensi bank dalam bahasa Inggris yang menyatakan bahwa pelamar adalah nasabah di bank tersebut dengan memberikan informasi terkait jumlah saldo terakhir yang dimiliki, e) Bukti keuangan minimal 6 bulan terakhir, f) Fotokopi kartu keluarga, surat nikah, akta kelahiran (yang sudah terlebih dahulu diterjemahkan dalam bahasa Inggris menggunakan jasa penerjemah yang sah), g) Fotokopi tiket pesawat pulang pergi Jakarta-London, h) Surat undangan dari saya (yang dimana dalam hal ini saya menjamin ayah ibu saya tinggal di akomodasi saya selama kunjungan mereka di Inggris. Surat undangan ini juga saya lengkapi dengan melampirkan fotokopi paspor dan visa pelajar saya, surat keterangan dari kampus bahwa saya masih berstatus pelajar aktif, serta surat konfirmasi beasiswa (karena selama studi di London ini, saya mendapatkan bantuan beasiswa LPDP selama 4 tahun).

Hal-hal yang perlu diketahui: 

1. Formulir harus diisi dalam bahasa Inggris.
2. Submit pengajuan permohonan visa visitor Inggris paling cepat dilakukan 3 bulan sebelum keberangkatan.
3.¬†Datang ke salah satu ‘visa application centre’ di Indonesia adalah wajib sebagai persyaratan penting untuk pengajuan visa ini.
4. Tidak perlu memiliki Sertifikat Tuberculosis (TB) untuk pengajuan visa visitor.
5. Pada saat penyerahan dokumen, petugas hanya mengambil dokumen yang sudah difotokopi. Tapi lebih baik untuk membawa dokumen asli barangkali diminta petugas.
6. Dalam list dokumen yang harus dibawa yang tertera di website pengajuan visa Inggris, pelamar wajib membawa foto ukuran 3.5 x 4.5 dengan latar belakang berwarna putih. Tapi dalam kenyataannya, pada saat penyerahan dokumen, petugas tidak meminta foto tersebut. Sebagai gantinya, setiap pelamar akan dilakukan pengambilan foto di tempat.
7. Di link ini, https://visas-immigration.service.gov.uk/visa-type, dijelaskan bahwa semua dokumen yang berbahasa Indonesia harus diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Tapi dalam kenyataannya, ketika ayah menanyakan kepada petugas, petugas memberitahu bahwa aturan yang terbaru menjelaskan bahwa tidak perlu lagi menerjemahkan dokumen seperti buku nikah, akta lahir, dsb, ke dalam bahasa Inggris. Cukup membawa fotokopi semua dokumen ini dalam bahasa Indonesia.
8. Petugas hanya mengizinkan pelamar masuk ke dalam ruangan paling cepat 10 menit sebelum jadwal appointment yang sudah kita pilih, walaupun kita datang 1 jam lebih cepat.
9. Untuk informasi lebih jelas dan detail, silakan membuka link berikut https://www.gov.uk/standard-visitor-visa atau https://www.gov.uk/government/publications/apply-for-a-uk-visa-in-indonesia/mengajukan-permohonan-visa-inggris-di-indonesia-proses-permohonan 

Terimakasihh atas perhatiannya. Semoga informasi ini bermanfaat!

Good luck! ūüôā

London, 13 Agustus 2017

2016: Menjadi pembimbing tugas akhir

Standard

Tahun 2016 adalah tahun yang menurut saya penuh kejutan, penuh pengalaman, dan penuh memori. Air mata dengan kondisi down bisa mengalir bersamaan dengat tawa lebar penuh optimis. Aneh memang, tapi kira-kira memang begitu kondisinya. Ntah itu tentang pekerjaan, tentang persahabatan, tentang keluarga, maupun tentang hati.

Kali ini saya ingin¬†summarise tentang pengalaman saya menjadi pembimbing mahasiswa master disini. Summary¬†tentang kehidupan persahabatan dan cinta akan saya tulis secara terpisah berikutnya. Oia, sebenarnya saya bukan menjadi pembimbing utama, melainkan saya membantu membimbing mahasiswa yang dibimbing oleh pembimbing saya.¬†It sounds complicated? hehehe ūüėõ

Yap, dikarenakan riset yang saya kerjakan ini cakupannya cukup luas, dan juga dikarenakan topik yang saya kerjakan masih belum dikaji secara luas atau bisa dibilang masih menjadi pioneer di bidang saya, maka pembimbing saya pun menawarkan saya beberapa mahasiswa master, baik dari program MEng maupun MSc untuk membantu riset saya. Awalnya tentu saja saya deg-degan, karena khawati saya tidak bisa membimbing para mahasiswa master tersebut nantinya. Tapi tentu saja keraguan itu hanya saya simpan di hati saja, saya pun dengan optimis menyetujui usulan pembimbing saya tersebut.

Maret 2016, dua orang mahasiswa MEng dari dua negara yang berbeda, China dan Yunani, secara official mengerjakan tugas akhir dengan topik yang ada kaitannya dengan riset saya. 2 orang laki-laki yang tidak hanya memiliki nationality yang berbeda, tapi juga memiliki dua karakter yang berbeda, bahkan hampir bertolak belakang. Kevin adalah nama mahasiswa yang berasal dari China, sementara Angelos berasal dari Yunani. Pertemuan kami pertama kali terjadi di ruang pembimbing saya yang sekaligus pertemuan pertama mereka mengerjakan tugas akhir dibawah bimbingan pembimbing saya. Tak menunggu untuk diskusi kedua, selesai pertemuan pertama, saya sudah bisa menilai bagaimana karakter Kevin dan Angelsos. Kevin adalah mahasiswa pemalu, pekerja keras, serius, tapi ragu-ragu, takut mengambil resiko. Sementara Angelos itu berkarakter selengehan, santai, tidak malu bertanya, over-optimist, dan temperament, serta agak pemalas, tapi cerdas.

Ternyata cukup mudah menilai mahasiswa itu seperti apa. Tinggal dilakukan diskusi, kemudian diadakan sesi tanya jawab, maka dengan mudah bisa ditebak apakah mahasiswa tersebut pintar, berwawasan luas, optimis, pekerja keras, dan punya rasa ingin tahu yang tinggi. Atau mahasiswa tersebut diberikan tugas mengerjakan ‘x’ misalnya, maka kita bisa menilai mereka dengan melihat bagaimana respon mereka ketika diberi tugas. Bagaimana hasil yang mereka berikan pada saat mereka setuju untuk mengerjakan tugas itu. Bagaimana selama proses pengerjaan itu, apakah aktif, banyak bertanya atau sebaliknya pasif, atau bisa jadi mahasiswa itu hanya mencari muka. **Ada loh, mencari muka itu walaupun berkonotasi negatif, entah bagaimana menurut saya juga merupakan salah satu karakter yang dimiliki oleh employee¬†dimanapun berada, apapun kantor atau perusahaannya. hehe

3 bulan full bersama mereka, terhitung Maret hingga May 2016, tentu kenangan demi kenangan itu tergoreskan. Entah berapa kali saya beradu agumen dengan Angelos yang sangat keras kepala. Angelos yang orangnya careless atau kurang hati-hati membuat saya was-was membiarkan dia mengerjakan eksperimen saya. Gagal berarti gagal, tidak ada kesempatan kedua. Jika eksperimen saya gagal dikarenakan ketidakhati-hatian mahasiswa master ini, akan berakibat fatal pada PhD saya. Sementara tentu bagi mereka tidak begitu masalah. Toh nilai tugas akhir ini tidak mengambil andil yang cukup besar agar mereka bisa lulus program master ini. Jadi jika hasil yang diperoleh tidak sesuai yang diinginkan, maka mereka dengan mudah menuliskan apa yang mereka dapatkan. Tidak seperti saya yang harus berfikir keras memikirkan solusi untuk penelitian berikutnya.

Saya banyak belajar dari Angelos, salah satunya bagaimana untuk memberikan kepercayaan kepada orang lain. Yap, saya yang tidak percaya dengan apa yang dia kerjakan terhadap hasil yang dia peroleh, membuat Angelos ternyata juga tidak menyukai saya. Sementara itu, Kevin juga memberikan pelajaran unik kepada saya. Pelajaran tentang bagaimana menjadi orang yang jujur, jujur dengan hasil eksperimen yang ada, sekecil apapun masalah itu terjadi.

Hanya berselang dua minggu saja, ketika Kevin dan Angelos mengumpulkan laporan mereka sebagai penanda berakhirnya tugas akhir mereka, mahasiswa MSc pun datang melanjutkan tugas mereka. Xianyi yang berkewarnegaraan China dan Joshua yang berkewarganegaraan Nigeria, serta Chao yang juga dari China juga meninggalkan cerita tersendiri dalam kehidupan penelitian saya di tahun 2016.

London, 28 Januari 2017

2016: De Quervain’s Tendinosis

Standard

Berawal dari pertemuan di bulan Oktober¬†2015 dengan pembimbing yang meminta saya untuk bisa mempersiapkan draft terkait topik tugas akhir untuk mahasiswa S1 tingkat 4 atau disini¬†disebut ‘MEng student’, maka disinilah pembimbing saya memberitahu saya bahwa tahun depan akan ada dua orang MEng student bekerja membantu penelitian saya. ¬†Tentu saja ketika itu saya merasakan kesenangan serta keraguan dalam bersamaan. Ragu, apakah saya memang bisa membimbing mahasiswa MEng ini, ragu apakah mereka akan paham dengan apa yang saya bimbing, ragu apakah mereka dapat mengerjakan riset saya dengan sebaik-baiknya.. Dilain sisi, tentu saja saya juga senang, karena itu artinya kerjaan saya menjadi lebih ringan, bahkan saya bisa melirik pekerjaan lain selama 2 orang MEng ini mengerjakan riset saya. Senang karena saya akan merasakan pengalaman untuk membimbing mahasiswa disini, bahkan dua orang sekaligus. Ntahlah, kita lihat saja nanti, hatiku pun berbicara pelan.

Kemudian November dan Desember 2015, dua bulan saya melakukan experiment full di Lab untuk membuat ratusan sampel beton yang akan digunakan oleh MEng nanti. Dibantu oleh teknisi saya yang orangnya baik tapi super moody, 2 bulan target untuk membuat beton berjumlah 144 buah, alhamdulillah tercapai. Selesai tapi dilain sisi juga mendatangkan masalah. Yap, dua bulan secara terus menerus mengangkat hal yang berat, dsb, membuat jempol saya terkilir, dan kemudian saya pun didiagnosa oleh dokter terkena¬†penyakit “De Quervain’s Tendinosis”. Tentu saja hal ini membuat saya panik¬†karena khawatir jika jempol saya akan selalu bermasalah seperti ini yang menyebabkan saya tidak bisa beraktifitas normal lagi.

Informasi tentang penyakit ini pun saya kumpulkan. Saya juga datang ke dokter untuk memeriksa jempol saya ini. Pertama kali dokter pun membuat surat rujukan untuk saya agar melakukan X-Ray di rumah sakit pada jempol saya ini, barangkali ada hal yang serius terkait tulang saya. Ternyata alhamdulillah tidak ada, hanya ada masalah dengan tendon saya saja, ujar sang Dokter. Saya pun kemudian diminta untuk memakan obat rasa nyeri tiap kali saya merasakan nyeri di jempol saya, dan kemudian mengoles salap untuk menghilangkan rasa nyeri juga. 3 bulan, 4 bulan, saya beraktifitas dengan kondisi jempol saya tidak bisa digunakan secara normal. Saya mengalami kesulitan untuk mengetik, untuk menulis, pun untuk membuka gagang pintu. Tak ada perubahan, kemudian saya pun bertekad untuk pulang ke Indonesia, untuk ‘berurut’, karena saya yakin salah satu cara ampuh adalah datang ke tukang urut. Sebenarnya dalam tahap pengobatan di London ini, dokter saya sudah berencana untuk mendaftarkan saya untuk melakukan terapi¬†pada jempol¬†saya ini. Namun, proses pengobatan yang bertahap¬†di UK¬†ini, membuat saya baru mendapatkan jadwal terapi 4 bulan kedepannya, sementara menunggu waktu 4 bulan, saya hanya diminta untuk terus memakan obat anti nyeri (ibuprofen) jika nyeri itu terasa.

Hasil pulang ke Indonesia dengan melakukan pengobatan tradisional, yakni berurut, tidak menghilangkan rasa sakit ini 100%. Berkurang memang iya, tapi rasa nyeri itu masih terasa. Dikarenakan keterbatasan waktu saya di Indonesia, saya pun harus balik ke London dengan kondisi saya masih merasakan rasa nyeri di jempol saya. Sebenarnya ketika saya berurut, ibu tukang urut saya pun sempat memberi tahu saya bahwa kondisi jempol saya ini sudah di level medium yang bisa saja dengan cepat menjalar ke tendon saya lainnya. Tentu saja pernyataan ibu ini membuat saya cemas dan kemudian sedih. Khawatir hal terburuk akan saya alami.

Sesampainya di London, saya pun datang ke dokter lagi,¬†dan kali ini¬†dokter meminta saya untuk menggunakan ‘thumb splint’ setiap waktu yang bisa saya beli di apotik. Dikarenakan kegiatan saya di lab tidak begitu padat ketika itu, maka alhamdulillah perlahan rasa nyeri itu memang berkurang.

Akan tetapi, entah bagaimana ceritanya, jempol saya tiba-tiba terbentur benda keras di pagi hari, ketika saya hendak bersiap berangkat ke kampus. Saya pun kaget luar biasa dan air mata pun mengalir karena rasa sakit yang tiada tara. Perlahan saya mencoba melakukan gerakan pada jempol saya, akhirnya rasa perih itu berkurang sedikit. Saya pun kemudian memutuskan untuk datang ke dokter hari itu juga. Kebetulan pukul 8.30 Р10.00 adalah jadwal emergency yang dimana pasien akan dilayani dengan cepat jika memang membutuhkan pertolongan yang cepat. Jika tidak, untuk pengobatan biasa, kita baru dapat jadwal paling cepat satu minggu berikutnya.

Nama saya pun dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter. Kebetulan dokter yang saya temui saat itu bukan dokter yang selama ini saya temui sehingga ketika dokter bertanya tentang apa yang saya alami, saya pun harus menceritakannya dari asal mula saya merasakan sakit di jempo saya. Kurang lebih 7 bulan sudah rasa nyeri itu saya rasakan. Dokter pun dengan tanggap menawarkan ‘injection’ atau suntikan di jempol saya. Awalnya tentu saja saya ragu-ragu karena khawatir akan memberikan dampak kepada organ atau kesehatan saya yang lain. Tapi dengan ramah sang dokter pun menjelaskan bahwa tidak ada efek samping dari suntikan ini.

5 menit dokter mempersiapkan proses ini, akhirnya jempol saya pun disuntik 2 kali. Ntah apa yang terjadi dengan suntikan itu, bagaimana dokter memasukkan jarum itu ke tangan saya, saya tidak tahu sama sekali, karena disepanjang proses injeksi, saya hanya menutup mata saya rapat-rapat. hehee

3 menit, proses itu selesai. Dan alhasil, semua rasa nyeri, rasa sakit di jempol saya hilang seketika. Hilang 100%. Tak ada rasa nyeri berbekas sedikitpun, jempol saya sembuh total. Alhamdulillah..

Dengan perasaan bahagia bercampur haru, saya pun menceritakan hal ini ke orang tua saya, ke sahabat terdekat saya.

7 bulan menahan rasa nyeri, walaupun tidak terlalu mengganggu aktivitas, ternyata hanya dengan 3 menit saja lewat proses injeksi, rasa nyeri itu hilang. Yap, beginilah proses pengobatan di UK pada umumnya. Prosesnya bertahap dan dokter pada umumnya akan mengarahkan pasien untuk melakukan hal-hal yang kecil terlebih dahulu, seperti menkonsumsi obat penghilang rasa nyeri, sampai kemudian ketika terasa semakin memburuk, baru kemudian dokter akan melakukan tindakan medis seperti memberikan suntikan atau operasi. :))